Loading...

Operasi Penyadapan Telepon Rumah yang Berujung Skakmat

Ayo Ketawa! - Di sebuah markas besar badan intelijen rahasia, dua orang agen khusus tengah sibuk menjalankan misi tingkat tinggi. Mereka ditugaskan untuk menyadap jaringan telepon rumah seorang target penyelundup kelas kakap yang terkenal licin dan sangat berhati-hati dalam berkomunikasi.

Selama berhari-hari, kedua agen itu memasang perangkat intersepsi tercanggih di ruang kontrol. Mereka mengenakan headphone tebal dengan fokus penuh, menunggu target mengangkat gagang telepon demi membongkar rahasia besar sindikat kejahatan tersebut.

Suasana ruangan mendadak tegang ketika lampu indikator di mesin penyadap berkedip merah. Target akhirnya menerima panggilan telepon masuk.

Dengan napas tertahan, kedua agen itu merapatkan headphone ke telinga mereka, bersiap mendengarkan kode-kode rahasia atau lokasi transaksi bawah tanah.

Dari ujung sambungan sebelah sana, suara berat sang target terdengar berbisik hati-hati.

"Halo... sandi apa yang kita pakai hari ini?" tanya sang target dengan nada serius.

Agen pertama yang memegang alat perekam langsung menelan ludah, sementara agen kedua mencatat cepat di atas kertas, mengira ini adalah awal dari percakapan sandi kriminal tingkat tinggi.

Namun, beberapa detik kemudian, dari ujung telepon terdengar suara seorang wanita—yang diduga istri sang target—menjawab dengan santai:

"Nggak usah pakai sandi-sandian segala! Cepetan belikan cabai rawit dua ons sama terasi di warung depan. Kalau kamu berani pulang nggak bawa belanjaan, awas ya kunci rumah saya banting!"

Mendengar instruksi maut tersebut, sang target di ujung telepon langsung mendesah pasrah dan menjawab lemas, "Siap, Komandan..."

Di ruang kontrol penyadapan, kedua agen intelijen yang tadinya tegang seketika saling berpandangan, lalu tertawa terbahak-bahak sampai memegang perut.

Misi rahasia negara hari itu resmi berubah menjadi kisah domestik rumah tangga yang paling kampret. (***)